Wisata Weekacura Tampak Indah, Tetapi Wisatawan Malah Curhat Soal Kenyamanan Hingga Menuai Sorotan
TIMEXNTT – Salah satu potensi alam yang berada di Desa Tema Tana, Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya tampak indah dan ramai pengunjung.
Namun, dbalik ‘kecantikan’ yang disuguhkan alamnya malah menuai sorotan lantaran kenyamanan pengunjung tak terjamin di sana.
Padahal, Weekacura merupakan salah satu destinasi wisata di SBD yang sudah ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Bahkan, menjadi pilihan sejumlah artis nasional untuk menghabiskan waktu libur.
Bagaimana tidak, surga alam yang belum lama ini membuat decak kagum pengunjung karena keindahan alam yang di apit oleh persawahan kini mendapat curhatan yang tak baik dari pengunjung.
Seperti yang dinarasikan oleh seorang pengguna facebook @Charen Rambu Pedy Henuk tentang pengalamannya ketika mengunjungi Weekacura.
Ia menanyakan pemungutan karcis oleh sejumlah oknum warga yang berada di lokasi wisata tersebut.
Dipostingan itu, ia menerangkan bahwa ada tiga orang yang sedang memegang sebatang kayu mirip palu dan juga membawa parang.
Ketiga orang itu diduganya telah melakukan pemungutan karcis secara liar hingga membuat wisatawan tidak nyaman ketika berada di Weekacura.
Dampaknya, sejumlah wisatawan yang sedang mengahabiskan waktu di destinasi wisata itu malah tidak nyaman atau tidak betah untuk tinggal lama di sana.
@Charen Rambu Pedy juga membandingkan destinasi wisata lain yang memiliki petugas pemungut karcis. Disebutnya bahwa petugas di tempat pariwisata lain dilengkapi dengan identitas yang lengkap hingga menerima wisatawan dengan ramah.
Berikut adalah isi unggahan akun faceboom @Charen Rambu Pedy yang hingga saat ini menuai beragam komentar.
Maaf bertanya,Weekacura masuk Desa Tema Tana atau desa Kadi Wano ? Dan pertanyaan berikutnya, apa memang sudah ada petugas khusus yang bertugas memungut uang untuk setiap kendaraan roda 4 paling sdkit Rp20.000 yang parkir dipinggir jalan?
Soalnya pengalaman selama beberapa kali ke sana belum pernah saya ditagih/dimintain uang karena saya pasti memberikan jika ada bukti/karcis yang bisa dipertanggungjawabkan, tetapi kemarin dengan mata kepala saya, saya lihat 3 orang yang sempat saya foto secara diam-diam (tidak saya post disini), dengan memegang palu/hamar kecil dan juga memakai parang (apa memang kebetulan atau ada niat lain yang terselubung)meminta uang dengan sedikit memaksa kepada beberapa pengunjung yang datang, dan beberapa pengunjung merasa sangat terganggu ketika oknum-oknum tersebut mengikuti mereka.
Kalau memang ada kebijakan dari desa yang bersangkutan biar jadi pencerahan buat kita semua, karena sebagai salah satu pelaku Pariwisata, saya sangat prihatin kalau tindakan yang dilakukan oleh oknum tersebut adalah untuk kepentingan/keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan kepentingan umum yang pasti bakal merugikan.
Memang benar di beberapa destinasi Wisata yang lain yang sudah dikelola dengan baik oleh pemerintah (BumDes, kecamatan, kabupaten atau bahkan pihak swasta) ada pelaku-pelaku Pariwisata baik itu guide lokal, penjual karcis masuk dan lain-lain tetapi mereka punya tanda pengenal dan bukti yang bisa dipertanggung jawabkan serta grooming yang layak.
Tetapi mungkin yang lebih memprihatinkan (maaf tidak bermaksud menghina) pengalaman kemarin, oknum-oknum trsebut dengan PDnya mendekati setiap pengunjung dengan aroma yang sangat menyengat karena kemungkinan mandinya sudab beberapa hari sebelumnya.
Seharusnya kalaupun mereka mau membantu dengan harapan pengunjung memberi tip’s dengan sukarela, ya mandi dan berpakaian yang layak sehingga daerah/wilayah kita semakin dikenal dengan baik dan slogan tentang “Bali masa lalu, Labuan Bajo masa kini & Sumba masa depan bukan sekedar slogan tetapi benar-benar diwujudkan dg baik karena Sumba sudah kaya dengan SDA dan budaya yang unik /beragam tetapi SDMnya masih sangat jauh dari yang diharapkan.
Mari sama-sama kita membangun Pariwisata daerah kita dengan membenahi diri yang lebih baik & benar sesuai dengan aturan dan kebijakan yang ada sehingga kita mampu bersaing bukan saja dikancah Nasional tetapi di mata dunia/Internasional.
Sontak, unggahan akun facebook @Charen Rambu Pedy mendapat sejumlah komentar dari pengguna facebook lainnya.
“Menurut saya itu termasuk tukang malak, Semoga pemerintah setempat membaca postingannya Tante dan mengambil sikap demi kemajuan pariwisata, dan postingannya Tante sangat bijak karena tidak merugikan siapapun. Intinya isi postingannya agar ada pembenahan,” komentar pengguna facebook lainnya.
“Tepat sekali. Saya juga pernah mengalami hal yang sama ketika membawa teman-teman ke sana. Bahkan saya diancam karena saya mempertanyakan karcis dan bayaran yang cukup mahal untuk kami per orang. Sebenarnya tidak masalah mahal setidaknya kami tahu bahwa kami tidak sedang ditipu atau diperas. Kami ber 16 ditambah saya dan supir 18. Kami di minta per orang 20rb. Kebetulan saat itu kami pakai bus. Dan kendaraan kami parkir di parkiran weekelo sawah. Dan di sana kami juga sudah bayar tiket masuk. Iya saya tau weekelo sawah dan wekacura adalah 2 wisata yang berbeda. Tapi tetap saja 20/org itu tidak masuk akal. Dan juga meminta dengan memaksa dengan parang di pinggang. Dan karena saya mempertanyakan karcis dan jga kenapa bayarannya 20k/org, sementara menurut informasi dari teman2 saya yang lain yang pernah berkunjung ke sana itu biasanya 10k/org. Dia mengancam hahahaha, tapi saya hanya membayar 100k. Mau terima atau kami jalan. Akhirnya dia terima dan dia ancam akan mengenali muka saya selamanya . Maaf tidak takut,” tulis akun lainnya dalam kolom komentar.***
Tinggalkan Balasan