Fasilitas Mangkrak: Ketika Posko Jaga Kehutanan di SBD Hanya Menjadi Monumen Tanpa Fungsi
STORINTT – Kebakaran hutan kembali terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur beberapa hari lalu. Dampaknya, sejumlah pepohonan tua berukuran besar dan rumpun-rumpun bambu ikut ludes terbakar.
Padahal, di tengah gempuran isu kerusakan lingkungan dan maraknya pembalakan liar, keberadaan posko jaga kehutanan seharusnya menjadi benteng terdepan dalam upaya perlindungan kawasan hutan, termasuk dapat dilakukan pengawasan dan pencegahan dari dini.
Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di sejumlah titik lokasi. Bangunan posko jaga yang didirikan menggunakan anggaran negara tersebut kini terbengkalai, lapuk dimakan waktu, dan menjelma menjadi fasilitas yang mubazir tanpa difungsikan secara optimal.
Bahkan, kebakaran pun juga terjadi disekitar posko jaga yang didirikan sejak beberapa tahun silam. Posko tersebut dikabarkan hanya difungsikan setelah selesai dibangun. Tentunya, pembaiaran itu berdampak pada pengalokasian anggaran yang sia-sia.
Pembangunan posko jaga kehutanan umumnya dirancang untuk memudahkan mobilitas petugas lapangan, menjadi pusat pemantauan, serta tempat peristirahatan bagi personil patroli. Sayangnya, realisasi di lapangan sering kali berhenti pada tahap pembangunan fisik semata.