Jadi Juri Putra-Putri SBD, Julie Laiskodat: SBD Satu-Satunya yang Masih Gelar Ajang Ini di Tengah Efisiensi Anggaran
STORINTT – Anggota Komisi XI DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya yang menjadi satu-satunya daerah yang masih mampu menggelar pemilihan Putra-Putri di tengah efisiensi anggaran yang melanda hampir semua daerah.
Hal tersebut disampaikan Julie Laiskodat saat menjadi juri pada Grand Final Pemilihan Putra-Putri Kabupaten Sumba Barat Daya Tahun 2026 di Tambolaka Culinary Center (TCC) Tambolaka, Kamis (29/10/2026).
Julie mengungkapkan, di meja juri ada salah satu finalis binaannya sejak dari Dekranasda Provinsi NTT yang pernah ia bawa hingga ke tingkat internasional.
“Ada perwakilannya, saya punya Nona lalu cantik di meja juri, itu salah satu adalah dari lahirnya dari dekranasda provinsi yang kemarin saya ajak sampai tingkat internasional,” ujar Julie.
Ia mengaku kaget sekaligus bangga, di saat efisiensi anggaran membuat semua OPD geleng-geleng kepala dan bahkan Dekranasda Provinsi pun sudah tidak lagi menggelar ajang serupa, Sumba Barat Daya masih bisa melaksanakannya.
“Saya kaget di saat efisiensi seperti ini juga, semua OPD-OPD pasti geleng-geleng kepala ya di efisiensi seperti ini masih bisa. Karena provinsi aja, setahu saya kayaknya mereka sudah tidak bikin lagi karena sangat efisiensi, anggaran tidak ada. Tapi jadinya satu-satunya yang tahun ini masih bisa bikin itu adalah Sumba Barat Daya. Jadi sekali lagi saya apresiasi,” tegas Julie.
Menurut Julie, pemilihan ini bukan sekadar ajang mencari yang cantik dan ganteng, tetapi merupakan upaya mengorbitkan dan memberi tanggung jawab kepada potensi SDM anak-anak muda.
“Kenapa karena ini bukan sekedar hanya pemilihan Putri cantik atau ganteng tapi ini adalah mengorbitkan dengan tanggung jawab kepada potensi SDM anak-anak muda kita,” jelasnya.
Julie yang pernah mendapat julukan tersendiri karena selalu membawa Putra-Putri NTT ke ajang nasional dan internasional saat masih di Dekranasda Provinsi, mengaku sedih karena dalam beberapa tahun terakhir NTT tidak lagi mengirimkan perwakilan.
Julie mengungkapkan bahwa di setiap ajang nasional, panitia maupun peserta dari daerah lain selalu mempertanyakan keberadaan perwakilan NTT.
Kerinduan yang sama juga dirasakan oleh para Putra-Putri binaan di grup yang merasa kehilangan panggung untuk menampilkan potensi daerah.
Menurut Julie, selama lima tahun pembinaan, Putra-Putri NTT memiliki keunggulan yang selalu dirindukan di tingkat nasional.
Mereka dikenal memiliki attitude yang sangat sopan, kedisiplinan yang tinggi, serta kekayaan budaya yang ditampilkan berbeda dan lebih kaya dibandingkan daerah lain, sehingga kehadiran NTT selalu dinantikan di setiap ajang bergengsi baik nasional maupun internasional.
Untuk itu, Julie berharap ajang di SBD ini tidak berhenti sampai di sini. Ia menitipkan nasib 12 finalis kepada Bupati Ratu Wulla dan Ketua Dekranasda Markus Dairo Talu agar bisa mewakili NTT di tingkat nasional maupun internasional.
“Saya berharap, makanya dengan begini Kata Ratu dan Kak Markus kita jangan stop di sini. Jadi jika ini malam, kalau bisa yang 12 orang ini bisa nanti diajak, mereka bisa mewakili Nusa Tenggara Timur untuk ajang nasional maupun internasional. Jadi itu saya menitipkan nasib ke-12 orang ini di tangan Kak Ratu dan Kak Markus,” harapnya.
Julie juga menceritakan kisah haru yang baru saja dialaminya sekitar dua minggu lalu terkait perjuangan salah satu Putri Pariwisata NTT di Jakarta.
Finalis tersebut harus berangkat ke Jakarta hanya bersama sang ayah tanpa didampingi ibunya karena keterbatasan, dan tanpa adanya bantuan dari pihak manapun karena keterbatasan anggaran akibat efisiensi.
Karena tidak mendapat dukungan, Putri Pariwisata tersebut harus menempuh perjalanan laut dari Ende menuju Jakarta selama berhari-hari.
Setibanya di Jakarta, ia kemudian mencari Julie untuk meminta bantuan, hingga akhirnya Julie turun tangan memberikan dukungan penuh termasuk menyiapkan kostum yang dikenakan dari koleksi juara binaannya.
Julie mengaku tidak tega membiarkan perjuangan tersebut berakhir sia-sia. Setelah selesai membawa nama besar NTT di ajang tersebut, Julie tidak lagi mengizinkan sang Putri dan ayahnya pulang dengan kapal laut, dan memfasilitasi kepulangan mereka berdua menggunakan pesawat terbang.
“Mereka naik kapal laut dari Ende menuju Jakarta berhari-hari, lalu habis itu mereka cari saya, akhirnya semua kita support dia punya kostum dari saya. Kebetulan saya punya butik. Adik itu pulangnya saya tidak lagi mengizinkan papanya sama, mereka berdua pulang naik pesawat karena dia membawa nama besar NTT,” pungkas Julie dengan haru.***