Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Mahasiswa Unika Weetebula Tanya Soal Gerakan, Prof Simon Sabon; Demo malah ditangkap polisi

Mersiani yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI) Sumba Barat Daya menanyakan itu karena banyak yang meragukan eksistensi mahasiswa dizaman sekarang ini.(Dokpri Rian Marviriks)

“Mungkin banyak dari teman-temanmu yang tidak baca. Tapi kalau saya cerita yang satu ini lebih parah. Indeks yang lain ya. Begini, kita bergerak maju, orang lain juga sedang bergerak maju. Indeks-indeks inikan perbandingan dengan Negara lain,” kata Prof Simon.

“Kadang-kadangkan kita berpikir seperti orang pedalaman di Afrika. Dia mau menari bawa persembahan ke altar itu, maju dua kali mundur tiga kali. Nah, kapan sampainya? Igu maju juga tapi tidak sampai-sampaikan? Ini sama dengan kita berjuang untuk menuju ke 2045 untuk menaikan semu indeks ekonomi, pendidikan,” katanya lagi.

Baca Juga  Profil Ketua Bawaslu SBD Periode 2023-2028, Ternyata Seorang AktivisĀ 

Menurutnya, hingga saat ini, literasi dan nomirasi orang Indonesia masih sangat minim.

“Keterbacaan saja kecil sekali untuk orang Indonesia,” tambah Prof Simon.

Baca Juga  Jadwal Pemilihan Kepala Desa Mekar dan Defenitif di Sumba Barat Daya: 65 Penjabat Kepala Desa Defenitif Semakin Gembira

Untuk itu, jika mahasiswa tidak bisa memberikan masukan secara formal kepada pemerintah, Prof Simon meminta mahasiswa supaya dapat berinovasi untuk diri sendiri dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!