Memutus Rantai Silent Killer: Misi Pemerintah Sumba Barat Daya Menekan Malaria Dari Desa
STORINTT – Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya melalui Dinas Kesehatan tak tinggal diam dalam memutus rantai silent killer atau pembunuh senyap di lingkungan masyarakat.
Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Sumba Barat Daya dalam menekan malaria yang belakangan menyebabkan ribuan kasus.
Bukan hanya pada kasus malaria, pemerintah juga berupaya memastikan pelayanan-pelayanan kesehatan lainnya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonni Wulla mengatakan, pembangunan kesehatan merupakan salah satu investasi jangka panjang dalam membangun masyarakat yang produktif, tangguh, dan sejahtera.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya terus berkomitmen memperkuat pelayanan kesehatan agar semakin berkualitas, merata, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Komitmen tersebut terlihat dari keberhasilan Kabupaten Sumba Barat Daya dalam memperkuat jaminan kesehatan masyarakat. Pada Januari 2026, Kabupaten Sumba Barat Daya menerima penghargaan Universal Health Coverage (UHC) dari BPJS Kesehatan dengan predikat “Terbaik Utama”.
“Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas komitmen dan kinerja pemerintah daerah dalam memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap jaminan kesehatan,” kata Bupati Ratu Wulla.
Upaya memperkuat pelayanan kesehatan juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk mitra internasional. Pada Maret 2026, Kabupaten Sumba Barat Daya menerima bantuan dua unit ambulans dari Kaohsiung Humanitarian Care Society, Taiwan.
Bantuan tersebut diharapkan semakin memperkuat layanan kesehatan dan kesiapan fasilitas darurat, terutama dalam menjangkau wilayah yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara cepat.
Kolaborasi internasional juga dilakukan bersama Satu Hati Charity, organisasi nirlaba asal Republik Ceko. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat Sumba Barat Daya memperoleh layanan pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis serta pemeriksaan kehamilan.
Kerja sama tersebut juga didukung bantuan berbagai peralatan medis untuk RSUD Reda Bolo, antara lain EKG, USG, CTG, fetal doppler, monitor tanda-tanda vital, pulse oximeter, dan tensimeter. Berbagai dukungan tersebut diharapkan semakin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Bupati Ratu Wulla juga menyampaikan capaian positif dalam pengendalian malaria. Berkat kerja keras tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, dan masyarakat, jumlah kasus malaria berhasil ditekan dari 2.075 kasus pada 2025 menjadi 360 kasus hingga 28 Juli 2026.
Sementara itu, Annual Parasite Incidence (API) turun dari 6,18 menjadi 1,05 per 1.000 penduduk, dengan positivity rate sebesar 0,20 persen.
Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mewujudkan target eliminasi malaria pada 2030. Pemerintah daerah terus memperkuat berbagai langkah melalui Gerakan Berantas Malaria Sehari (GEMAS), Gerakan Serentak Malaria (GSM), pemeriksaan darah massal, pengendalian vektor, serta pemanfaatan kelambu berinsektisida.
Pemerintah daerah juga terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Pada 2025, program tersebut telah melayani 38.338 orang, sedangkan hingga Juni 2026 telah menjangkau 37.727 orang.
Pelayanan dilakukan dengan pendekatan jemput bola ke desa-desa, rumah adat, gereja, hari pasar, serta berbagai kegiatan pelayanan publik lainnya. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh layanan kesehatan secara lebih mudah, cepat, dan merata.
Transformasi pelayanan kesehatan juga terus dilakukan melalui pengembangan RSUD Reda Bolo sebagai rumah sakit rujukan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Gedung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) telah selesai dibangun dan mulai dimanfaatkan untuk pelayanan rawat jalan. Mulai Agustus 2026, rumah sakit juga mengoperasikan layanan rawat inap standar KRIS JKN, ruang VIP, ICU, PICU, HCU, dan ICVCU.
Sementara itu, layanan CT Scan, mammografi, cath lab, hemodialisa, ruang cytotoxic, serta poli urologi sedang dipersiapkan seiring dengan pemenuhan peralatan kesehatan dan sumber daya manusia.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari proses peningkatan status RSUD Reda Bolo dari rumah sakit tipe D menuju tipe C melalui dukungan program PHTC dan Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN).
“Pemerintah daerah juga terus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, memperkuat sistem informasi rumah sakit, menghadirkan dokter spesialis, serta melengkapi fasilitas dengan berbagai peralatan kesehatan modern,” katanya lagi.
Disisi lain, pada bulan September 2026, RSUD Reda Bolo dijadwalkan menerima bantuan CT Scan, mammografi, dan cath lab dari Kementerian Kesehatan. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan semakin mempercepat pelayanan spesialistik, meningkatkan kualitas penanganan pasien, serta mengurangi kebutuhan rujukan ke luar daerah.
Dengan capaian-capaian pada sektor kesehatan, Bupati Ratu Wulla menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam mewujudkan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Pembangunan kesehatan bukan hanya tentang membangun fasilitas, tetapi juga memastikan setiap masyarakat mendapatkan pelayanan yang bermutu, cepat, terjangkau, dan berkeadilan,” tambahnya.***