“Semakin Menjadi”, Anggaran Rp7 Juta, Kepala Desa Panenggo Ede Menutup Lobang Atap Kantor Pakai Seng Bekas
TIMEXNTT – Perbuatan Kepala Desa Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Balaghar, Marten Mete “semakin menjadi”.
Bagaimana tidak, sejumlah temuan yang diminta untuk dibereskan malah dikerjakan tidak sesuai harapan.
Misalnya, rehabilitas kantor desa yang disebut menggunakan anggaran kurang lebih Rp7.650.000 malah tidak dimanfaatkan dengan baik. Ia menutup lobang atap kantor desa dengan menggunakan selembar seng bekas.
Sebenarnya, dana desa tidak bisa dialokasikan untuk pembangunan kantor desa. Termasuk rehabilitas.
Hal itu juga dikonfirmasi oleh Kepala Dinas PMD SBD, Semon Lende. Ia tidak membenarkan jika dana desa digunakan untuk kegiatan tersebut.
Meski sudah “keras kepala” dan berbenturan dengan aturan dalam mengalokasikan dana desa ini, Kepala Desa Panenggo Ede malah tidak memanfatkan dengan baik.
Bukan hanya itu, pekerjaan jalan yang juga menjadi temuan dikabarkan dikerjakan abal-abal. Bahkan, titik kordinat jalan tersebut dipindahkan oleh Kepala Desa Panenggo Ede tanpa diketahui oleh masyarakat.
Terkonfirmasi, seorang warga Desa Panenggo Ede, Frans Pati Hagongo mengatakan, hingga saat ini belum ada pekerjaan yang dinilai tuntas berdasarkan temuan-temuan yang ada.
Frans menuturkan, atap kantor desa yang sebelumnya lobang sudah ditutupi oleh kepala desa dengan menggunakan seng bekas. Tidak ada perubahan lain.
“Itu atap kantor desa, kepala desa tutup pakai seng bekas bukan seng baru. Yang kami lihat satu lembar saja,” kata Frans ketika konfirmasi di timexntt.id beberapa hari lalu.
Selain itu, Kepala Desa Panenggo Ede juga mengerjakan jalan dengan volume kurang lebih 1.700 meter tidak sesuai dengan titik awal.
Kepala Desa memindahkan titik kordinat jalan tersebut tanpa melalui sebuah musawarah dalam melibatkan seluruh masyarakat. Jalan itu dipindahkan tepatnya dibelakang rumah orangtuanya.
Frans menyebut pekerjaan jalan itupun dikerjakan abal-abal. Bahkan, hingga saat ini juga belum finis.
“Jalan dipindahkan dari titik awal. Sekarang psosisi jalan itu ada dibelakang orangtua kades menunu ke kali. Tidak bermanfaat sama sekali. Kami tidak tahu dipindahkan karena tidak ada rapat,” ucap Frans.
Frans menuturkan, ia menduga titik jalan dipindahkan lantaran tanaman padi dan jagung masyarakat sudah tumbuh.
Awalnya, ketika dilakukan survei, seluruh masyarakat pemilik lahan setuju untuk menghibahkan tanah mereka demi kelancaran pembangunan jalan.
Sayangnya, pasca disurvei, Kepala Desa Panenggo Ede malah tidak mengerjakan jalan ini. Bahkan, ia diduga telah memanfaatkan anggaran tersebut untuk kebutuhan pribadi.
“Dulu itu semua masyarakat setuju untuk buat jalan disitu, tapi karena sudah lama sekali tidak dikerjakan, jadi masyarakat tanam jagung dan padi sudah. Sekarang tanaman itu sudah tumbuh. Karena ada temuan dan kepala desa diminta kerja itu jalan, mungkin karena takut dia pindahkan sudah di lahan yang tidak ada tanaman dan tidak bermanfaat,” tutur Frans.
Frans juga menyebut beberapa temuan lainnya belum ada yang dibereskan oleh Kepala Desa Panenggo Ede. Untuk itu, ia mendesak seluruh pihak yang berwewenang supaya lebih serius dalam menangani persoalan tersebut.
Hingga berita ini ditayangkan, timexntt.id sudah berupaya konfirmasi Kepala Desa Panenggo Ede, Marten Mete. Namun, ia belum merespon.***
Tinggalkan Balasan