Takut Diberhentikan Sementara, Kepala Desa Panenggo Ede Kerja Jalan Abal-Abal, Anggaran Rp256 Juta
TIMEXNTT – Pasca mendapat kecaman atas temuan dari sejumlah kegiatan yang tidak terealisasi dalam mennggunakan dana desa, Kepala Desa Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Balaghar, Marten Mete malah membereskan temuan tersebut tanpa melihat kualitas alias penting jadi.
Setelah mendapat sorotan soal rehabilitas kantor desa yang juga dikerjakan tidak tuntas, Marten Mete kembali menuai sorotan ketika mengerjakan jalan dengan volume 1.700 meter.
Berdasarkan informasi yang diperoleh timexntt.id, Kepala Desa Panenggo Ede mengerjakan jalan tersebut secara abal-abal. Bahkan, jalan yang menelan anggaran ratusan juta ini tidak digiling.
Bukan hanya itu, titik koordinat jalan sebagaimana yang dituangkan dalam APBDes dipindahkan secara sepihak oleh Kepala Desa Panenggo Ede, Marten Mete.
Marten memindahkan jalan itu tepat dibelakang rumah orangtuanya tanpa melalui musawarah desa dalam melibatkan masyarakat. Jalan yang dikerjakan ini pula dinilai tidak bermanfaat lantaran tidak ada rumah warga di sana.
Dikabarkan, pekerjaan jalan yang menelan anggaran Rp256.728.000 pada tahun 2024 dari dana desa ini dinilai dikerjakan tanpa memperhatikan kualitasnya.
Kepala Desa Panenggo Ede dinilai mengerjakan dalam kondisi terdesak karena terancam akan diberhentikan sementara dari jabatan sebagai Kepala Desa Panenggo Ede jika tidak membereskan segala temuan termasuk pekerjaan jalan tersebut.
Dampaknya, sejumlah titik jalan ini sudah terkikis oleh air hujan. Bahkan, beberapa titik lainnya digenangi air dan menyebabkan jalan menjadi becek dan tak beraturan. Siraman sirtu ini dinilai hanya untuk menutup tanah hitam badan jalan.
Dengan tindakan itu, Kepala Desa Panenggo Ede terkesan membereskan temuan untuk menyelematkan diri dari proses hukum. Padahal, jika dihitung-hitung, pekerjaan jalan ini semestinya sudah diselesaikan pada tahun 2024 lalu.
Sebelumnya, sebagaimana diberitakan awal, seorang warga Desa Panenggo Ede, Frans Pati Hagongo menyoroti pekerjaan jalan yang dibereskan oleh Kepala Desa.
Frans menyebut pekerjaan jalan itupun dikerjakan abal-abal. Bahkan, hingga saat ini juga belum finis.
“Jalan dipindahkan dari titik awal. Sekarang psosisi jalan itu ada dibelakang orangtua kades menunu ke kali. Tidak bermanfaat sama sekali. Kami tidak tahu dipindahkan karena tidak ada rapat,” ucap Frans.
Frans menuturkan, ia menduga titik jalan dipindahkan lantaran tanaman padi dan jagung masyarakat sudah tumbuh.
Awalnya, ketika dilakukan survei, seluruh masyarakat pemilik lahan setuju untuk menghibahkan tanah mereka demi kelancaran pembangunan jalan.
Sayangnya, pasca disurvei, Kepala Desa Panenggo Ede malah tidak mengerjakan jalan ini. Bahkan, ia diduga telah memanfaatkan anggaran tersebut untuk kebutuhan pribadi.
“Dulu itu semua masyarakat setuju untuk buat jalan disitu, tapi karena sudah lama sekali tidak dikerjakan, jadi masyarakat tanam jagung dan padi sudah. Sekarang tanaman itu sudah tumbuh. Karena ada temuan dan kepala desa diminta kerja itu jalan, mungkin karena takut dia pindahkan sudah di lahan yang tidak ada tanaman dan tidak bermanfaat,” tutur Frans.
Frans juga menyebut beberapa temuan lainnya belum ada yang dibereskan oleh Kepala Desa Panenggo Ede. Untuk itu, ia mendesak seluruh pihak yang berwewenang supaya lebih serius dalam menangani persoalan tersebut.***
Tinggalkan Balasan