Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Aste Dappa Polisikan Wartawan Karena Dituding Melakukan Kekerasan: Tidak Benar Itu, Jangan Mengarang Cerita

Rian Marviriks Storintt.id
Aste yang saat ini sebagai driver di RSDU Reda Bolo membantah melakukan tindakan kekerasan seperti yang dituding oleh seorang wartawan di Sumba Barat Daya, Gunter Meha atau GM.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT – Seorang warga Desa Wee Rame, Kecamatan Wewewa Tengah, Asterius Dappa Kira mengambil langkah hukum atas tudingan kekerasan yang dialamatkan terhadap dirinya.

Untuk diketahui, sejumlah wartawan yang hadir saat Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin melakukan peninjauan progres RSUD Reda Bolo tidak ada yang dilarang untuk menjalankan tugas jurnalistik. Bahkan, beberapa wartawan melakukan live streaming.

Keributan itu terjadi sesaat setelah rombongan Kementerian Kesehatan meninggalkan RSUD Reda Bolo.

Aste yang saat ini sebagai driver di RSDU Reda Bolo membantah melakukan tindakan kekerasan seperti yang dituding oleh seorang wartawan di Sumba Barat Daya, Gunter Meha atau GM.

Dengan tudingan itu, Aste pun mengambil langkah hukum dengan melaporkan GM di Polres Sumba Barat Daya. Ia bersama keluarga merasa dirugikan atas tudingan tersebut. Aste akan melaporkan GM dan 2 orang lainnya.

“Tadi saya sudah konsultasi di polres atas informasi miring yang menuduh saya melakukan kekerasan. Dari pihak polres minta saya lengkapi berkas. Beberapa jam ke depan saya akan ke polres membawa berkas dan melaporkan secara resmi. Yang saya lapor itu Gunter Meha dan 2 orang lainnya,” kata Aste, Jumat(24/04/2026).

Baca Juga  Aktivasi Coretax di Kantor Pajak Waikabubak Masih Bisa Dilakukan Setelah 31 Desember 2025

Menurut Aste, saat itu, ia menegur GM karena mengeluarkan kata-kata tak sedap terhadap salah satu orangtua yang menanyakan tentang kehadiran Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.

Aste juga mengakui bahwa dirinya mempunyai niat baik dalam menegur demi menjaga kelancaran kegiatan yang berlangsung, apalagi dirinya bagian dari RSUD Reda Bolo.

Setelah itu, ketika rombongan Menteri Kesehatan menuju ke Desa Kadi Pada, ia menghampiri GM guna mengingatkan lagi secara baik. Ia meminta supaya jangan mengulangi hal tersebut.

Sayangnya, GM disebutnya tidak menerima saran. GM justru mencoba mengangkat handphone untuk merekam video ke arah wajah Aste. Saat itu juga, Aste kembali meminta supaya jangan merekam.

“Kan begini, saat mereka(rombongan) keluar dari ruangan, ada bapak tua yang tanya soal kehadiran Menteri Kesehatan. Tiba-tiba GM langsung jawab bilang, jaga sedikit bapak mulut, jangan bilang wartawan anj**g, kamu orang Watukawula yang anj**g dia bilang. Padahal bapak itu tidak omong kata itu,” katanya lagi.

Baca Juga  Pelaku Penikaman di Dinas Pendidikan SBD Sudah Ditetapkan Sebagai Tersangka, Terancam 5 Tahun Penjara

Mendengar kata tidak menyenangkan itu, memicu kemarahan sejumlah warga yang hadir. Mereka menanyakan, alasan GM mengeluarkan kata tersebut.

Aste mengaku, ketika keributan terjadi, dirinya tidak melakukan kekerasan, ia justru diamankan oleh pihak keamanan.

Untuk itu, Aste menegaskan, dirinya tidak mengetahui alasan GM menudingnya dalam melakukan tindakan kekerasan. Ia juga menegaskan tidak merampas handphone wartawan.

“Bagaimana saya buat kekerasan, saya ditahan anggota polisi dan tentara, terus dibelakang saya, pimpinan saya juga ada. Saya tidak melakukan itu, jangan karang-karang cerita. Saya segera laporkan di polres. Saya juga punya hak larang orang yang mau rekam saya tanpa ijin di saya,” tegasnya.

Sementara itu, dikutip dari berbagai media online, Gunter Meha mengaku ditendang dan dikeroyok oleh Aste dan sejumlah orang lainnya. Atas kejadian itu, Gunter juga telah melaporkan di Polres Sumba Barat Daya, NTT.

“Saya juga ditendang hingga terjatuh, bahkan handphone saya dirampas ketika hendak memvideokan peristiwa itu,” terangnya sebagaimana dikutip storintt.id.***

Tutup
error: Content is protected !!