Bukan Sekadar Timbang Balita, 160 Kader Posyandu se-SBD Ikuti Jambore Perkuat Posyandu ILP
Untuk itu, ia meminta supaya kader perlu menjadi penggerak di dusun dan desa, mengajak keluarga datang ke Posyandu, mendorong ibu hamil memeriksakan kehamilannya, mengingatkan imunisasi, membantu menemukan masalah pertumbuhan anak, menggerakkan masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjadi penghubung antara masyarakat dengan tenaga kesehatan.
“Dengan kata lain, Posyandu boleh berlangsung di satu tempat, tetapi semangat pelayanan kesehatan harus bergerak sampai ke rumah-rumah masyarakat,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan tugasnya, kader tentu menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis, jarak, keterbatasan sarana, partisipasi masyarakat, hingga beban kerja.
Namun di sisi lain terdapat peluang penting secara kelembagaan, di mana kader Posyandu memiliki keterkaitan erat dengan pemerintahan desa, termasuk dalam proses pengangkatan dan pemberhentian oleh Kepala Desa.
Hal ini perlu dilihat sebagai peluang untuk membangun kader yang kuat, berkelanjutan, dan memiliki legitimasi di tingkat desa. Kader yang dipilih diharapkan memiliki kemauan untuk melayani, komitmen kepada masyarakat, mampu bekerja sama, mau belajar, dan siap menjalankan peran sesuai kebutuhan pelayanan.