MASIH MISTERI! Cerita Keluarga Almarhum Goris Bessu Sebelum Dibunuh Pada Tahun 2024 di Perbatasan Weepangali – Lombu
STORINTT – Kasus tindak pidana pembunuhan terhadap Goris Bessu di Desa Weepangali, Kecamatan Kota Tambolaka, tepatnya di perbatasan Desa Lombu, Kecamatan Wewewa Tengah pada 05 Juni 2024 silam hingga saat ini masih menjadi misteri. Pihak kepolisian belum berhasil mengungkap persoalan tersebut.
Kasus ini pun kembali muncul kepermukaan publik sesaat setelah organisasi mahasiswa PMKRI Cabang Tambolaka bersama keluarga korban melakukan aksi damai dalam mencari keadilan di Polres Sumba Barat Daya pada 15 Juni lalu.
Sayangnya, gerakan tersebut tidak membuahkan hasil hingga saat ini. Padahal, Polres Sumba Barat Daya telah berjanji dihadapan massa aksi untuk membuka kembali penanganan kasus tersebut.
Setelah storintt.id melakukan penelusuran lebih jauh dikeluarga korban, tepatnya pada 16 Juni 2026, berbagai pengakuan dari keluarga almarhum Goris Bessu berhasil dihimpun.
Berdasarkan pengakuan dari keluarga, Almarhum Goris Bessu dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mempunyai masalah dalam keluarga, termasuk dalam kehidupannya sehari-hari ketika bekerja sebagai seorang sopir pikap.
Ia dikenal sebagai pribadi yang murah senyum dan selalu membantu sesama. Apalagi, ia hidup sendiri dalam membiayai sekolah anak-anaknya ketika istrinya terlebih dulu meninggal dunia.
Selama istrinya masih hidup, Goris Bessu dikenal sebagai suami yang hemat dalam mengeluarkan uang. Ia tertib, tidak sembarang, kalau kebutuhan tidak terlalu mendesak, kecuali untuk biaya kuliah anaknya.
Sebelum meninggal dunia, Goris Bessu bekerja keras untuk menafakahi anak-anaknya, termasuk membiayai sekolah mereka. Kala itu, seorang anak perempuan Goris Bessu sedang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Ia menempuh pendidikan disalah satu perguruan kesehatan.
Karena tuntutan biaya perkuliahan anaknya, Goris Bessu pun mulai menagih hutang kuda kepada seorang warga dari Desa Lombu, Kecamatan Wewewa Tengah. Awalnya, pembeli kuda tersebut tidak langsung bertemu dengan Goris Bessu untuk melakukan penawaran. Ia melalui orang lain dengan inisial A sebagai perantara karena dianggap kenal dekat dengan Goris Bessu. Tawar menawar pun berhasil, kuda tersebut dijual dengan harga Rp7 juta. Namun, baru dicicil Rp3 juta.
Sayangnya, hingga pada waktu pelunasan, tidak ada informasi soal pelunasan. Goris Bessu telah melakukan lenagihan secara berulang, namun tidak membuahkan hasil. Mengingat tuntuntan biaya kuliah anaknya yang semakin menuntut, Goris Bessu mendatangi A yang sebelumnya sebagai perantara untuk bersama-sama pergi menagih hutang tersebut.
A pun bersedia untuk mendampingi Goris Bessu ke rumah pembeli yang diketahui berinisial S yang merupakan warga Desa Lombu. Sayangnya, ketika tiba di rumah, S tidak berhasil mereka temui. A dan Goris Bessu pulang dan menuju ke tempat kerja S di Katewel. Namun, hal yang sama juga terjadi, S tidak berhasil ditemui.
Karena tidak berhasil menagih hutang kuda untuk memenuhi kebutuhan kuliah anaknya yang kian menuntut, Goris Bessu juga pergi bertemu dengan seorang pembeli tanahnya yang disebut belum lunas. Goris Bessu terpaksa menempuh jalan itu karena anaknya terus menghubunginya untuk segera mengirim uang perkuliahan yang sudah mendesak.
Diketahui, tanah tersebut berada di dekat Pasar Oba Komi yang baru dibayarkan beberapa kali secara cicil dengan jumlah kurang lebih Rp60 juta. Karena masih ada tunggakan, Goris Bessu pun bertemu dengan pembeli. Namun, ia juga gagal karena pembeli tersebut belum ada uang.
Karena beberapa kali pergi menagih dan tak kunjung dilunasi, pembeli tanah meminta Goris Bessu untuk menjual kembali tanah tersebut, tetapi dengan catatan, uang yang sudah dicicil harus dikembalikan. Goris Bessu menyetujui permintaan itu.
Goris Bessu langsung mencari orang lain yang hendak membeli tanah tersebut. Setelah mendapat pembeli yang baru, proses jual beli berlangsung dan disepakati dengan harga Rp120 juta. Goris Bessu berencana, ketika transaksi berlangsung, ia mau mengembalikan uang pembeli pertama sebesar Rp60 juta. Sementara sisanya akan dipergunakan untuk biaya kuliah anaknya yang sudah sangat mendesak, termasuk biaya hidup sehari-hari.
Kronologi Sebelum Pembunuhan di Perbatasan Weepangali – Lombu
Pagi itu, kira-kira sekitar pukul 06 pagi waktu setempat, Goris Bessu didatangi oleh seorang pria berjaket hitam dan menggunakan topeng yang menutupi matanya. Ia datang menemui Goris Bessu untuk memintanya mengangkut seekor kerbau. Pria bertopeng itu bertemu dengan Goris Bessu dipinggir jalan kurang lebih sekitar 100 meter dari halaman rumah.
Dikarenakan lagi kosong muatan, Goris Bessu pun bersedia dan mengambil kendaraannya untuk segera menuju ke lokasi guna mengangkut kerbau tersebut. Setibanya di tempat yang dijanjikan, Goris Bessu menunggu orang yang sudah menemuinya. Lantaran karena sudah terlau menunggu, ia pun hendak kembali ke rumah. Saat itu, ia sudah hampir sampai dipersimpangan SMK Don Bosko.
Namun, ia tidak pernah menyadari ketika tiba di persimpangan itu, ia menerima telepon dan langsung memutar kembali kendaraannya menuju ke lokasi tempat mengangkut kerbau yang berada di Lombu.
Sialnya, nasib naas menimpah Goris sebelum sampai dilokasi tempat mengangkut kerbau. Ia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi di pinggir jalan. Luka sobek bekas sanjata tajam pun ditemukan dibeberapa bagian tubuhnya. Sementara yang menemukan jasadnya adalah siswa yang hendak menuju sekolah.
Mendengara kabar itu, keluarga Goris Bessu yang sedang berada di kebung langsung merasa tidak percaya karena ia dikenal sebagai orang baik tanpa bermusuhan dengan siapa pun. Mereka menuju ke Tempat Kejadian Perkara(TKP), setiba di sana baru mereka melihat secara langsung.
Setelah melakukan pengaduan di Polsek Wewewa Timur, keluarga Goris Bessu menaruh harapan besar dipundak penegak hukum untuk segera mengungkap kasus tersebut. Sayangnya, kasus yang terjadi pada tahun 2024 itu belum kunjung ada perkembangan.
Storintt.id terus melakukan pendalaman dikeluarga korban soal penanganan perkara dari pihak kepolisian pasca dilayangkan laporan polisi. Seiring berjalannya waktu, menurut pengakuan keluarga korban, saat itu, pihak Polres Sumba Barat Daya melalui Unit Buser sudah mengantongi foto-foto para terduga pelaku, namun tidak ditangkap atau diamankan.
Keluarga bercerita, saat itu pimpinan dan 2 anggota Buser Polres Sumba Barat Daya mendatangi kediamannya salah satu keluarga korban guna menyampaikan perkembangan kasus yang sedang ditangani oleh kepolisian. Mereka datang menggunakan mobil fortuner hitam.
Salah satu anggota Buser yang dikenalinya berinisial U, namun kedua anggota lainnya ia tidak lagi mengingat nama mereka, tetapi salah satu keluarga korban memastikan bahwa salah satunya adalah pimpinan Buser kala itu. Ketika Tim Buser itu tiba di kediamannya, mereka menyampaikan kalau 2 terduga pelaku sudah meninggal dunia karena dibunuh. Sedangkan 2 lainnya masih hidup. Kedua foto terduga pelaku yang masih hidup itulah yang fotonya ditunjukan oleh tim Buser.
Meski tim Buser menunjukan foto dengan posisi menggerakan handphone, kekuarga masih mengingat persis baju yang dikenakan oleh terduga pelaku dalam foto itu. Keduanya menggunakan kaus hitam dan jaket hitam dengan menutup kepala menggunakan topi jaket tersebut. Namun, keluarga korban tidak mengenalinya. Mereka menduga kedua terduga pelaku tersebut bukan orang sekitar, melainkan dari luar desanya.
Janji Polres Sumba Barat Daya Membongkar Kembali Kasus Tersebut
Wakapolres Sumba Barat Daya, Kompol Marthin Ardjon mengaku bahwa pihaknya juga memprihatinkan atas musibah yang ditimpah oleh keluarga korban. Bahkan, ia menyebut dirinya juga merasa kehilangan.
“Memang tadi rekan-rekan mengatakan jangan ada alasan ketika ada pergantian pimpinan Pergantian pimpinan dalam sebuah organisasi itu biasa, namun bukan berarti karena pergantian pimpinan itu menghilangkan suatu kasus atau proses hukum suatu peristiwa, hukum itu adalah proses estafet yang harus kita teruskan,” tegas Wakpolres Kompol Marthin Ardjon ketika menjawab tututan massa aksi, Senin(15/06/2026).
Untuk itu, ia menegaskan, pihaknya bertekad untuk membuka lagi untuk mencari tahu kendala-kendala di mana sehingga penanganan kasus tersebut dinilai berlarut-larut.
Kemudian yang berikut, setiap progres penanganan nanti, pihaknya juga akan mengundang para mahasiswa dan keluarga korban guna mengetahui dan mengikuti sejauh mana perkembangan penanganannya.
“Ini janji saya. Kami juga tentunya tidak akan tertutup, bagi teman-teman yang mengetahui, atau mendapatkan informasi-informasi dalam rangka membuat terang peristiwa pidana ini silakan datang, 24 jam kami siap mernerim ade-ade atau siapa saja. Bagi kami ini proses adalah PR bagi kami,” katanya lagi.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sumba Barat Daya, IPTU Yakobus K. Sanam juga menegaskan kalau pihaknya akan berusaha dalam kasus yang menyebabkan Gregorius Bessu meninggal secara misterius. Ia juga mengaku peduli dan mendengarkan semua keluhan korban.
Namun, dirinya juga mengharapkan dukungan dari semua pihak, khususnya keluarga korban dalam memberi petunjuk untuk pengungkapan kasus tersebut.
“Saya dan teman-teman akan berusahan keras untuk mengungkap kasus ini, seperti yang disampaikan Pak Wakapolres, kami akan bentuk tim dn tim ini akan melakukan penyelidikan dan melakukan pengungkapan terhadap kasus yang terjadi di tahun 2024 atau 2 tahun yang lalu. Dan kaitan dengan hal itu, kami mohon dukungan dan kerja sama semuanya dan terlebih khususnya yang tahu kasus ini adalah keluarga korban, tolong welcome terbuka dengan kami semua,” kata IPTU Yakobus K. Sanam kala itu.
Sebagai informasi tambahan, sampai saat ini, belum rilis terbaru soal perkembangan penanganan kasus tersebut. Terbunuhnya Goris Bessu dari tahun 2024 hingga kini masih menjadi misteri.***