Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Oknum Guru SMA Negeri Wewewa Selatan SBD Potong Dana PIP 300 Siswa, Satu Siswa Rp100 Ribu

Ratusan siswa yang menerima PIP harus menelan pil pahit ketika diwajibkan melakukan pemotongan sebesar Rp100.000/siswa pasca pencairan dana tersebut.(Dok.Istimewa)

TIMEXNTT – Praktik pungli kembali diduga terjadi di SMA Negeri 1 Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Dugaan pungli itu dilakukan oleh oknum guru pasca pencairan Dana Program Indonesia Pintar(PIP) terhadap kurang lebih 300 siswa yang menerima bantuan dana tersebut.

Padahal, pemerintah pusat mengupayakan bantuan tersebut demi dimanfaatkan oleh siswa yang berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu untuk kebutuhan pendidikan.

Sayangnya, aliran dana yang terbilang sedikit itu malah mendapat potongan dari oknum guru yang tidak bertanggungjawab.

Seperti yang terjadi disalah satu sekolah di Kabupaten Sumba Barat Daya, SMA Negeri 1 Wewewa Selatan.

Ratusan siswa yang menerima PIP harus menelan pil pahit ketika diwajibkan melakukan pemotongan sebesar Rp100.000/siswa pasca pencairan dana tersebut.

Sementara potongan itu dilakukan oleh seorang oknum guru dengan dalil uang administrasi.

Padahal Dana PIP tidak diijinkan untuk melakukan pemotongan oleh siapapun. Termasuk pihak sekolah.

Sebab, pemotongan dana PIP merupakan tindakan pelanggaran dan dapat merugikan siswa dan keluarganya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh timexntt.id, pemotongan dana PIP dari kurang lebih 300 siswa itu dilakukan oleh oknum guru berinisial MDN.

MDN memotong Rp100 ribu kepada masing-masing siswa dengan dalil biaya administrasi dan juga untuk biaya jasa terhadap guru-guru yang telah membantu selama ini.

Baca Juga  SDK Marsudirini Dapat Bantuan Perbaikan Gedung Sekolah Rp1,4 Miliar, Kepsek: Terima Kasih Pemda SBD

Namun demikian, perlu diketahui bahwa dalil MDN tidak dapat dibenarkan. Pasalnya, siswa-siswi yang menerima bantuan tersebut mengaku berproses dengan mengeluarkan biaya sendiri selama ini.

Seperti yang diakui oleh seorang siswa SMA Negeri 1 Wewewa Selatan kelas XI, DD. Ia mengaku mendapat potongan Rp100 ribu pasca pencairan dana PIP di Bank BNI Weetebula.

DD pun mengakui bahwa bukan hanya dirinya yang dipotong Rp100 ribu. Semua siswa-siswi yang menerima bantuan PIP juga mengalami hal yang sama.

DD semestinya menerima dana PIP sebesar Rp1.800.000. Namun demikian, dikarenakan dirinya belum melunasi uang sekolah, jadi DD dengan inisiatif memotong Rp200.000 demi melunasi uang sekolahnya.

Kendati sudah memotong uang sekokah, DD pun diminta oleh oknum guru untuk memotong lagi Rp100 ribu. Sehingga, DD hanya menerima Rp1.500.000.

“Bukan hanya saya yang uangnya dipotong 100, semua kami yang terima begitu, uang saya sendiri yang terima di BNI Waitabula, setelah itu saya berikan ke guru, saya sebenarnya terima 1.800 ribu. Potong uang sekola 200 ribu jadi saya hanya terima 1.500 ribu,” ngaku DD sebagaimana dikuti timexntt.id dari nttkreatif.com, Sabtu(21/12/2024).

 

DD merasa heran, ketika oknum guru yang melakukan pemotongan dana PIP itu menjelaskan bahwa uang dipotong sebesar Rp100 ribu merupakan uang administrasi.

Baca Juga  Soal Perusahan Lawadi SBD, Kejaksaan Negeri Sumba Barat Masih Menunggu Hasil ini

Selain biaya administrasi, juga dijelaskan oleh oknum guru itu bahwa pemotongan juga diperuntukan buat guru-guru lainnya yang telah membantu.

DD heran karena dirinya bersama siswa-siswi lainnya selama proses pencairan di Bank BNI menggunakan biaya pribadi atau kendaraan pribadi tanpa adanya fasilitas dari pihak sekolah.

“Saya ke Bank dengan teman-teman itu menggunakan kendaraan pribadi tanggung biaya sendiri,” ungkapnya.

Siswa lain yang juga menerima bantuan PIP juga mengeluhkan hal yang sama. Sebut saja, siswi kelas XII dengan inisial YM. Ia membenarkan bahwa ada oknum guru yang telah melakukan pemotongan.

Padahal, kata YM, selama proses pencairan di Bank BNI, dirinya dan teman-teman mengeluarkan biaya sendiri untuk kebutuhan foto copy, bensin dan makan minum.

“Betul, beasiswa saya juga dipotong 100 ribu, padalah kami ke Weetebula itu menggunakan biaya sendiri, makan sendiri, foto copy sendiri. Bahkan saya tidak tahu uang 100 ribu yang dipotong itu arahnya kemana,” kesalnya.

Hingga berita ini ditayangkan, timexntt.id masih berupayan konfirmasi keoada pihak sekolah di SMA Negeri 1 Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!