Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ganti Akal: Stunting Itu Milik Bersama, Makna GEBRAK Butuh Gotong Royong Semua Pihak

Rian Marviriks Storintt.id
Ia menekankan bahwa desa adalah ujung tombak, tanpa komitmen dari pemerintah desa, program stunting tidak akan pernah menyentuh sasaran yang sebenarnya.(Dokpri Rian Marviriks)

Namun demikian, Ganti Akal memberi catatan khusus bahw persoalan paling krusial dan menjadi pekerjaan rumah terbesar yang disorotinya adalah masih rendahnya kesadaran keluarga untuk membawa anak ke Posyandu. Padahal Posyandu adalah garda terdepan untuk deteksi dini stunting.

“Yang paling terpenting adalah kesadaran keluarga atau masyarakat menghadirkan anak ke Posyandu. Kebanyakan selama ini yang hadir di Posyandu itu hanya kira-kira 40 persen saja. Selebihnya, baik itu balita maupun ibu hamil, jarang ke Posyandu,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan pada bulan Juli di Kabupaten Sumba Barat Daya, angka stunting tercatat sebanyak 6.211 anak atau sekitar 39 persen dari total balita yang diukur. Angka ini cukup tinggi dan menjadi alarm bagi semua pihak.

“Jadi kemarin itu kami lakukan monev bulan Juli di SBD untuk melihat kehadiran di Posyandu. Dari situ kami mendapatkan persoalan apa yang terjadi di lapangan. Kenapa anak tidak datang? Apakah karena jarak jauh, orang tua bekerja di kebun, atau tidak tahu jadwal. Kami rangkum semua, ada beberapa persoalan yang harus diselesaikan,” jelasnya.

Tutup
error: Content is protected !!