Ketika Telapak Kaki Penegak Hukum di Sumba Barat Daya Jadi Tempat Permohonon Pencari Keadilan
STORINTT – Pemandangan tidak biasa yang merobek nurani terlihat dalam suasana demo di depan gedung Polres Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Senin(15/06/2026).
Diantara langkah orang yang lalu lalang, seorang putri sulung korban pembunuhan di Desa Weepangali, Kecamatan Kota Tambolaka pada tahun 2024 silam, Elisabet Bessu dengan air mata bertumpah ruah, berlutut di bwah kaki penegak hukum.
Elisabet tidak sedang memohon belas kasihan terhadap sebuah peristiwa yang sepeleh. Tetapi ia memohon sebuah keadilan sambil mengusap air mata yang mengalir deras demi mengungkap kasus terhadap bapak kandungnya yang menjadi tulang punggung dalam keluarga mereka. Apalagi, ibu kandungnya lebih terdahulu dipanggil Yang Maha Kuasa.
Tentunya, ini bukan hanya sebuah potret peristiwa yang meninggalkan kesan, ini adalah dinding buntu yang dirasakan, ini adalah duka yang diratapi oleh mereka yang tidak lagi memiliki orangtua. Ia bersimpuh menuntut penegakan hukum, itu adalah penanda bahwa sistem telah gagal menyentuh hatinya.
“Bapak Kapolres, tahun 2024 lalu adalah masa paling suram dalam hidup saya. Saya batal wisuda karena kehilangan mama pada bulan Januari 2024. Saat itu saya hanya berharap kepada bapak saya. Namun luka itu kembali bertambah ketika bapak harus pergi dalam keadaan yang tragis dan meninggal secara misterius,” kata Elisabet Bessu dalam mengisahkan hidupnya, Senin(15/06/2026) di depan para aparat penegak hukum Polres Sumba Barat Daya, NTT.
Elisabet bercerita, mendiang bapaknya setiap pagi keluar untuk mengais rezeki demi menghidupi dan membiayai dirinya dan adiknya, namun di hari itu, bapaknya justru pulang dalam keadaan tak bernyawa dengan bacokan di lehernya.
Hari itu, kata Elisabet, dunianya terasa runtuh. Ia bukan saja kehilangan tulang punggung keluarga, tetapi juga kehilangan harapan. Bahkan, semua mimpinya saat itu seolah dikuburkan bersama bapaknya.
Elisabet ingat betul bahwa bapaknya tidak pernah menyakiti hati sesamanya. Karena itu, peristiwa ini membuat dirinya larut dalam trauma yang mendalam. Atas peristiwa itu, Elisabet mengaku kalau psikisnya terganggu dan hampir mau gila.
Di usia dirinya yang sekarang, Elisabet masih membutuhkan dekapan orang tua dan nafkah seorang bapak.
“Bapak Kapolres, karena tidak ada pilihan lain, saya terpaksa melanjutkan studi sebagai modal untuk mengais rezeki dan menghidupi adik-adik saya. Setiap hari saya harus memasang topeng saat menghadapi pasien, lalu kembali berduka setiap malam. Saya sering bertanya kepada tembok kamar: Mengapa harus saya? Semua teman pulang ke rumah dan melihat orang tua mereka, sedangkan saya pulang melihat kuburan. Orang lain didekap oleh orang tuanya, sementara saya didekap oleh trauma batin yang menyiksa,” kata Elisabet sembari tak kuasa tahan tangis.
Elisabet meluapkan kesedihannya dihadapan para penegak hukum. Ia mengaku bahwa sampai saat ini, ketika keluar rumah atau sekadar pergi ke pasar pun ia selalu membutuhkan teman yang mendampinginya.
Ia juga menyebut merasa gila karena setiap malam melihat adik kecilnya yang selalu menangis karena merindukan kasih sayang kedua orangtua.
“Bapak Kapolres, saya datang ke sini sebagai masyarakat kecil dan seorang anak yatim piatu. Saya hanya ingin meminta keadilan untuk almarhum bapak saya. Hanya dengan belas kasih dan perhatian Bapak dalam menuntaskan kasus ini, saya bisa memperoleh keadilan yang seadil-adilnya, sehingga secercah harapan dapat kembali menerangi hidup saya yang suram. Saya ingin hidup normal meskipun berstatus yatim piatu,” ungkap Elisabet.
“Saya mohon, Pak. Kasihanilah saya, berbelas kasihlah kepada saya. Tangkap pelakunya, usut tuntas kasus ini. Sudah dua tahun lamanya kami menunggu. Itu adalah kerinduan hati kami yang paling dalam.
Tolong Bapak. Berikan kami keadilan untuk bapak saya. Dan saya percaya Bapak Kapolres sangat mampu membuka kasus ini hingga menjadi terang benderang. Saya sungguh percaya. Terima kasih, Bapak Kapolres,” ungkapnya lagi dengan penuha harapan.***