Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ketika Telapak Kaki Penegak Hukum di Sumba Barat Daya Jadi Tempat Permohonon Pencari Keadilan

Rian Marviriks Storintt.id
Putri sulung korban pembunuhan di Desa Weepangali berlutut memohon keadilan.(Dokpri Rian Marvirik)

Di usia dirinya yang sekarang, Elisabet masih membutuhkan dekapan orang tua dan nafkah seorang bapak.

“Bapak Kapolres, karena tidak ada pilihan lain, saya terpaksa melanjutkan studi sebagai modal untuk mengais rezeki dan menghidupi adik-adik saya. Setiap hari saya harus memasang topeng saat menghadapi pasien, lalu kembali berduka setiap malam. Saya sering bertanya kepada tembok kamar: Mengapa harus saya? Semua teman pulang ke rumah dan melihat orang tua mereka, sedangkan saya pulang melihat kuburan. Orang lain didekap oleh orang tuanya, sementara saya didekap oleh trauma batin yang menyiksa,” kata Elisabet sembari tak kuasa tahan tangis.

Elisabet meluapkan kesedihannya dihadapan para penegak hukum. Ia mengaku bahwa sampai saat ini, ketika keluar rumah atau sekadar pergi ke pasar pun ia selalu membutuhkan teman yang mendampinginya.

Ia juga menyebut merasa gila karena setiap malam melihat adik kecilnya yang selalu menangis karena merindukan kasih sayang kedua orangtua.

“Bapak Kapolres, saya datang ke sini sebagai masyarakat kecil dan seorang anak yatim piatu. Saya hanya ingin meminta keadilan untuk almarhum bapak saya. Hanya dengan belas kasih dan perhatian Bapak dalam menuntaskan kasus ini, saya bisa memperoleh keadilan yang seadil-adilnya, sehingga secercah harapan dapat kembali menerangi hidup saya yang suram. Saya ingin hidup normal meskipun berstatus yatim piatu,” ungkap Elisabet.

Tutup
error: Content is protected !!