Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Belasan Tahun Menunggu, Di Masa Kepemimpinan Ratu Angga, Petrus Akhirnya Menerima Bantuan Perbengkelan: Demi Biaya Anak Kuliah

Rian Marviriks Storintt.id
Bantuan itu disebutnya sebagai bantuan pertama yang ia terima sejak belasan tahun mengguluti pekerjaan sebagai pengusaha bengkel tambal ban di wilayah kodi.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT – Seorang warga Desa Bondo Kodi, Kecamatan Kodi, Petrus Fabianus Woni telah menunggu selama belasan tahun untuk mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Petrus, selama ini hanya bisa membiayai kedua anaknya yang masing-masing berada dibangku kuliah dan SMP dengan memanfaatkan bengkel kecil(tambal ban).

Namun, Petrus tidak pernah menyangka, penantiannya selama ini akhirnya mendapatkan bantuan perbengkelan di masa kepemimpinan Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla dan Wakil Bupati Dominikus Alphawan Rangga Kaka.

Petrus menerima bantuan kompresor angin yang berukuran besar dari Pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Bantuan itu disebutnya sebagai bantuan pertama yang ia terima sejak belasan tahun mengguluti pekerjaan sebagai pengusaha bengkel tambal ban di wilayah kodi.

Baca Juga  Profil Ketua Bawaslu SBD Periode 2023-2028, Ternyata Seorang AktivisĀ 

Petrus mengaku senang ketika menjadi salah satu pengusaha bengkel tambal ban yang mendapat kompresor angin.

“Saya sangat merasa senang. Saya sudah belasan tahun menunggu, tapi di kepemimpinan Ibu Ratu dan Pak Angga saya baru dapat bantuan. Saya ucapkan terima kasih,” kata Petrus yang ditemui seusai menerima bantuan tersebut.

Meski hanya mendapat bantuan kompresor angin, Petrus merasa sudah sangat membantu dirinya dalam mengembangkan usaha bengkelnya.

Selama ini, Petrus hanya menggunanakan alat perbengkelan yang apa adanya, termasuk kompresor yang sudah tidak layak pakai.

Baca Juga  Polemik PPPK Tahap 2, BKPSDM SBD: Semoga Diselesaikan Dengan Baik

Pendapatan dari usaha tambal ban itu dimanfaatkannya untuk membiayai anak-anak yang saat ini sedang dibangku perkuliahan dan SMP, termasuk biaya hidup sehari-hari.

Dengan keterbatasan alat bengkel itu, setiap hari hanya mendapat pemasukan Rp50 ribu. Sehingga dengan adanya bantuan itu, ia meyakini akan meningkatkan pendapatannya.

“Saya sendiri yang kerja. Setiap hari itu kadang hanya Rp50 ribu karena kompresor saya sudah rusak. Kadang-kadang bisa, kadang-kadang tidak, jadi kalau ada yang tambal, biasanya tidak bisa saya layani. Tapi dengan kompresor besar ini saya sangat berterima kasih karena akan mendukung usaha saya,” katanya lagi.***

Tutup
error: Content is protected !!