Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Respon Rektor UNITRI Malang Soal MBG Masuk Kampus

Rian Marviriks Storintt.id
Kampus didorong untuk membangun dan mengelola SPPG secara mandiri, sekaligus menjadikannya sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan efek domino yang meluas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga pendidikan dan ekonomi produktif.

Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), program ini mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi hingga petani dalam satu ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebut perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan program ini.

Baca Juga  Ibu dan Anak yang Diterkam Buaya di SBD Ditemukan di Hari Yang Berbeda dan Tak Bernyawa

Kampus didorong untuk membangun dan mengelola SPPG secara mandiri, sekaligus menjadikannya sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik.

“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan dikutip, Selasa(19/05/2026).

Baca Juga  Siswa di Sumba Barat Daya NTT Keracunan Makanan Bergizi Gratis: Ada Ikan Goreng Tepung

Tak lama kemudian, MBG pun resmi masuk lingkungan kampus yang ditandai dengan peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Meski diklaim sebagai laboratorium riset, kebijakan satu kampus satu dapur ini memicu gelombang penolakan keras dari berbagai Civitas Akademika.

Tutup
error: Content is protected !!