Masyarakat Sumba Barat Daya Desak Pemprov NTT Perbaiki Traffic Light di Pertigaan Radamata: Jangan Jadikan Museum
STORINTT – Masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya mendesak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperbaiki traffic light di pertigaan Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka.
Diketahui, traffic light tersebut merupakan tanggung jawab Dinas Perhubungan Provinsi NTT yang disebut kurang lebih sudah 8 tahun tidak berfungsi.
Selama ini, Dinas Perhubungan Provinsi NTT dinilai mengabaikan dan tidak melakukan pemeliharaan lampu lalu lintas demi menjamin keselamatan pengguna jalan di daerah ini.
Seorang pengguna jalan yang ditemui storintt.id, Selasa(12/05/2026) Darius(35) mengatakan, traffic light yang terpasang di dipertigaan jalan raya pasar lama menuju Pelabuhan Weekelo sudah lama tidak berfungsi.
“Sekitar 8 tahun tidak lagi berfungsi. Saya sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek. Kalau soal kapan dipasang itu saya kurang tau persis tahun berapa, tapi perkiraan saya itu sudah 8 tahun tidak berfungsi,” kata Darius.
Menurutnya, angka kecelakaan di lokasi itu sering terjadi. Hal itu disebabkan, kata dia, karena kendaraan yang melalui jalur itu cukup padat. Apalagi, setiap pagi anak sekolah dan pegawai kantor melintasi jalur tersebut.
Bukan hanya dilalui oleh anak sekolah dan pegawai kantor, jalur itu juga menjadi jalur utama kendaraan yang hendak masuk dan keluar dari Pelabuhan Waikelo.
Selain itu, dipertigaan itu juga terdapat SPBU dan juga beberapa hotel yang menjadi pusat keluar masuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Sering terjadi kecelakaan, karena takut terlambat jadi tidak perhatikan lagi keselamatan, pengguna jalan langsung belok-belok sudah. Coba kalau lampu lalu lintas ini berfungsi, pasti akan menjamin keselamatan,” katanya lagi.
Untuk itu, dirinya mendesak Dinas Perhubungan Provinsi NTT untuk segera mengambil tindakan dalam memperbaikinya. Ia bahkan menilai trafick light itu sebagai museum yang setiap hari menjadi hiasan di jalur pertigaan Radamata.
“Saya mendesak supaya segera diperbaiki. Jangan sampai akan menjadi museum atau peninggalan yang menghiasi jalur itu. Kalau memang tidak ada lagi niat perbaiki, lebih baik dicopot saja biar jangan meninggalkan kesan bahwa pemerintah provinsi seolah-olah peduli dengan keselamatan kita sebagai masyarakat kecil, padalah barangnya tidak berfungsi,” tegasnya lagi.***