Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ketua Ajo Matim Mengutuk Keras Tindakan Komplotan Oknum Polisi yang Melakukan Penganiayaan Terhadap Wartawan Floresa

Dalam pernyataan resminya, Nardi Jaya menegaskan bahwa tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis merupakan serangan terhadap kebebasan pers.

Saya menduga polisi itu sebetulnya tahu bahwa saya merupakan jurnalis Floresa karena ia berkata, “saya tahu beberapa tulisan kraeng tentang proyek geotermal.”

Dia juga bertanya, “apa saja yang kraeng tulis tentang proyek geotermal di Poco Leok?”

Saya menjawab, “salah satu tulisan saya adalah wawancara khusus dengan seorang mama dari Poco Leok. Ite [Anda] bisa cek di web Floresa.”

Baca Juga  Floresa Laporkan Aparat Polres Manggarai dan Oknum Jurnalis ke Polda NTT

Saya juga meminta polisi yang menyita ponsel saya untuk membuka web Floresa.

Dia menuruti permintaan itu dan menemukan bahwa “kraeng benar-benar merupakan Pemimpin Redaksi Floresa.”

Mendapati informasi itu, dia lalu membuat tangkapan layar atas identitas dan status saya yang tertera di web Floresa.

Baca Juga  JPIC SVD Ruteng; Hentikan Mobilisasi Aparat Keamanan dan Hukum pelaku penangkapan dan penyekapan warga dan jurnalis Floresa di Poco Leok

Setelah mendengar penjelasan dan melihat bukti yang saya tunjukkan, kedua polisi itu berkata, “kalau dari tadi dapat penjelasan seperti ini, kraeng tidak akan ditahan. Ternyata kraeng memang Pemimpin Redaksi Floresa.” “Kami akan kena nanti kalau kraeng beri klarifikasi di Polres,” katanya, tanpa menjelaskan maksud pernyataan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!