Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ketua Ajo Matim Mengutuk Keras Tindakan Komplotan Oknum Polisi yang Melakukan Penganiayaan Terhadap Wartawan Floresa

Dalam pernyataan resminya, Nardi Jaya menegaskan bahwa tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis merupakan serangan terhadap kebebasan pers.

Mereka mengklaim “potretan saya merupakan bagian dari upaya memprovokasi warga.”

Mereka menuding saya sebagai “anak buah Pater Simon dan provokator.”

Pater Simon merujuk pada Pater Simon Suban Tukan, SVD, direktur JPIC-SVD, lembaga milik Gereja Katolik yang selama ini mendampingi warga Poco Leok.

Mereka juga mengklaim bahwa “kalau mau mengambil gambar, harus minta izin kepada kami.” Mereka juga menuding “Floresa selalu membuat berita miring tentang proyek geotermal.”

Baca Juga  AKBP Sigit Harimbawan Jadi Kapolres TTS, Siapa Kapolres Sumba Barat Daya?

Di antara mereka ada juga yang sempat meminta KTP saya. Tapi, saya tidak memberikannya. Ada juga yang berteriak “Ambil borgol! Borgol saja dia!

Mereka juga menyita tas yang di dalamnya berisi laptop dan kamera serta menyita ponsel saya.

Seorang anggota polisi yang sejak awal mencekik saya yang merampas ponsel.

Baca Juga  Soal Sumur Bor, Kelompok Tani Buka Kedok Dinas Pertanian SBD: Jangan Kambing Hitamkan Petani

Ia juga berkata, “saya sudah memantau kau punya pergerakan selama ini.”

Usai berkali-kali memukul saya, mereka lalu memasukkan saya ke dalam sebuah mobil polisi dan mengunci pintunya.

Para aparat itu berkata, “kamu diamankan, bukan ditahan atau ditangkap.” Salah satu polisi yang melintas di luar mobil itu berkata, “kalau kamu menulis ‘berita yang lain,’ kami akan pantau.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!